SENGGANG

PDU Jambangan, Sarana Edukatif Mengenal Pengelolaan Sampah

Laporan Anggi Widya Permani | Sabtu, 14 April 2018 | 21:31 WIB
Salah satu kegiatan pemilahan sampah di Pusat Daur Ulang, Jambangan, Surabaya, Sabtu (14/4/2018). Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Di bangun sejak tahun 2016 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pusat Daur Ulang (PDU) Jambangan terus aktif mengelola sampah dari seluruh warga yang ada di Kelurahan Jambangan. Dalam sehari, PDU Jambangan bisa mengelola sekitar 5-6 ton sampah.

Warsito Koordinator PDU Jambangan mengatakan sebelum diolah, sampah-sampah yang terkumpul akan dipilah terlebih dahulu, untuk memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik bisa disulap menjadi uang, sementara sampah organik bisa diolah menjadi pupuk.

"Pupuknya itu untuk taman-taman di Surabaya. Warga Surabaya juga bisa mendapatkannya secara gratis, cukup dengan menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP)," kata Warsito.

Berdiri di atas lahan sekitar 2.910 meter persegi, dengan bangunan gudang berukuran 20x15 meter persegi, PDU Jambangan ini, sering menjadi tujuan sejumlah tamu dari luar kota. Jambangan, dikenal dengan keberhasilan warganya dalam mengelola sampah atau daur ulang. Hal itu menjadikan Jambangan, sebagai wilayah percontohan.

Seperti halnya hari ini, Sabtu (14/4/2018), sejumlah aktivis dari berbagai komunitas mengunjungi PDU Jambangan, untuk melihat langsung proses pengelolaan sampah.

Didampingi Warsito, mereka dijelaskan beberapa aktivitas yang ada di sana, salah satunya pengelolaan sampah organik yang diolah dengan metode komposting "kue lapis". Caranya, kata dia, sampah organik ditumpuk dengan tumpukan daun kering menjadi beberapa lapis.

"Di bagian bawah itu dikasih tumpukan daun kering, agar sampah organik tidak sampai menjatuhkan air. Karena kalau ada airnya, bisa menyebabkan aroma busuk dan munculnya belatung. Lalu susunan sampah dan daun kering dibalik dan dicampur, hingga berusia 21 hari. Dari 21 hari itu, ditambah 5 hari lagi untuk proses pengeringan. Kalau daun-daun kering ini dapatnya dari DKRTH Kota Surabaya, yang kini sudah bekerja sama dengan pengelola depo," jelasnya.

Tidak hanya menjelaskan pengelolaan sampah organik, Warsito juga menunjukkan tempat pengelolaan sampah anorganik, seperti plastik warna, plastik transparan, kertas, botol plastik, dan kaleng.

"Jadi, kami memilah dulu mana sampah organik dan anorganik untuk diolah. Tidak semua sampah yang ada disini, bisa kami olah. Terutama sampah residu, seperti pembalut, popok, itu langsung kami buang ke TPA," tambahnya.

PDU yang mempekerjakan sekitar 14 orang pegawai ini, kata Warsito, sebagai salah satu upaya Pemkot Surabaya, untuk mengurangi pasokan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Sementara itu, Agnesia Walandouw salah satu pengunjung, mengaku senang mendapatkan banyak ilmu dari DPU Jambangan, terutama dalam pengelolaan sampah. Baginya, sampah merupakan masalah besar, yang apabila tidak segera ditangani, akan menjadi bencana di lingkungan.

"Menurut saya tempat ini sangat edukatif sekali. Sesuai dengan tema kita dalam memperingati HUT ke 3 Sea-Soldier yaitu sampah dipandang sebelah mata. Saya mengajak teman-teman ke sini, ada yang dari Jakarta, dan lain-lain, khususnya kaum muda di Surabaya, untuk tahu ditempat ini, bahwa sampah bisa dikelola. Pastinya, ingin mengajak teman-teman juga untuk lebih peduli terhadap sampah," kata dia. (ang/ino/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.