SENGGANG

Cerita Mudik Lebaran para WNI di Inggris

Laporan Ika Suryani Syarief | Kamis, 14 Juni 2018 | 18:51 WIB
Ilustrasi.
suarasurabaya.net - Warga Indonesia yang tinggal di Inggris dan Irlandia pun ikut ramai-ramai mudik Lebaran 2018. Kalau mudik di Indonesia paling jauh hanya lintas pulau, maka para WNI ini harus lintas benua untuk mudik yakni dari Inggris di Eropa ke Indonesia di Asia Tenggara. Bahkan ada yang sudah berangkat mudik sebelum bulan suci Ramadhan.

"Saya mudik ke Tanah Air tahun ini lebih awal karena saya akan ke Aceh ingin memastikan proyek Gampung Aneuk Shaleh yang kami bangun dengan bantuan masyarakat Inggris berjalan lancar," ujar Nizma Agustjik, seperti dilansir Antara, Rabu (12/6/2018).

Nizma yang menetap lama di Kerajaan Inggris memiliki proyek Gampung Aneuk Shaleh yang menampung anak-anak korban tsunami dengan mendirikan asrama sekolah dan masjid.

"Kami masih membutuhkan dana untuk membangun menara dan tangki air serta toilet," ujarnya.

Untungnya, Nizma menemukan sumber air yang berada di sekitar asrama dan airnya sangat bersih. Penggalian sumur sudah dimulai sedalam lima meter. Proyek air ini tentu saja membutuhkan biaya sekitar Rp32 juta.

Dua tangki air dibutuhkan untuk keperluan mandi, wudhu dan dapur. Sementara sembilan toilet dan bak mandi sedang dibangun dan sudah mencapai 65 persen atas bantuan dari dermawan dari Malaysia.

Menurut ibu dua putri yang berangkat dewasa ini, santri yang dari berbagai kota kawasan Aceh berjumlah kurang lebih 90 orang yang juga mendapatkan pelajaran kurukulum national.

Pesantren itu terletak di Gunung Paroy, Kecamatan Lhoong atau 1,5 jam dari Bandara Iskandar Muda, Banda Aceh.

Pesantren ini awalnya dibangun pada tahun 2007 pascatsunami sebagai rumah singgah anak yatim tsunami. Kini, pesantren ini diubah menjadi Pesantren Tahfiz.

Para santri pun menghafal Al Quran dan ada sekitar 19 santri yang melanjutkan studinya ke beberapa universitas di Surabaya dan Malang dan kota-kota lainnya.

WNI lainnya, Muhammad Marsid yang juga menetap lama di London tahun ini berbahagia bisa berkumpul bersama keluarga di Malang untuk merayakan hari raya Idul Fitri.

Menurut karyawan Bank Indonesia tersebut, keluarga besarnya di Indonesia, sehingga libur panjang seperti tahun ini mesti dimanfaatkan bersama keluarga.

Suami Yunni Marsid yang memberikan dua putri dan satu putra mengatakan Lebaran tahun ini mendapat libur gratis selama tujuh hari kerja dan delapan hari cuti bersama sehingga jumlahnya menjadi tiga minggu, ujarnya.

Marsid bekerja di instansi pemerintah Indonesia yang otomatis mendapatkan izin cuti bersama pula.

"Alhamdulillah. Saya berharap libur seperti ini tidak hanya untuk tahun 2018 saja tapi berlaku juga untuk tahun depan dan seterusnya," katanya,

Marsid yang menetap di London Inggris selama 23 tahun dan baru bekerja di BI sejak Februari 2007 karena sebelumnya kerja di KBRI selama 12 tahun.

Lain lagi dengan Yanti Mariyah yang mudik dengan mengunakan maskapai penerbangan pesawat Garuda Indonesia dua minggu sebelum hari raya bersama sang putra dan telah menetap di Irlandia lebih dari 18 tahun.

"Senang pastinya bisa mudik Lebaran ke Bali. Enaknya terbang dengan Garuda dari London langsung ke Jakarta tidak perlu transit segala," ujarnya.

Sebagai masyarakat yang cukup lama berdomisili di luar negeri selama 27 tahun menetap di UK, tentunya sangat merindukan untuk bisa berlebaran di tanah air Indonesia.

Hal ini diungkapkan Dimas Darsono yang bekerja sebagai lokal staf pada Kedutaan Besar RI di London untuk sekian lama belum pernah pulang kampung berlebaran di Indonesia.

Kesan pertama pulang kampung dan suasana berpuasa sangat menyenangkan mengingat suasana berbuka banyak menu yang tersedia dan siap saji, walaupun bisa didapatkan juga ketika ikut berbuka puasa bersama masyarakat pengajian di London dan sekitarnya yang diadakan di gedung KBRI London dan di Wisma Nusantara kediaman Duta Besar RI di London yang selalu mengundang masyarakat untuk berbuka puasa bersama.

Menurut Dimas, waktu berpuasa di London bisa sampai 18-19 jam dan waktu berbuka pukul 21.05. Jika ingin ikut shalat tarawih maka akan lebih panjang lagi karena masjid tidak ada yang dekat dengan kediaman.

Sekalipun banyak masjid terpusat di tengah kota London namun mereka harus berbaur bersama masyarakat dari berbagai penjuru dunia. Ini yang membedakan dengan di Indonesia, khususnya Jakarta, tempat Dimas berdomisili. Semua berdekatan, tidak perlu menggunakan transportasi. Cukup berjalan kaki kalau mau ke Mesjid.

Kenikmatan yang Dimas alami dari pulang kampung adalah bisa berpuasa dan ikut tarawih bersama masyarakat yang selama ini tidak pernah didapatkan selama 27 tahun tinggal di London.

Sekalipun dia cukup sering ke Indonesia namun tidak pernah merasakan berpuasa dan taraweh apalagi Shalat Idul Fitri yang Insya Allah semoga bisa saya lakukan jika diberikan panjang umur oleh Allah SWT," kata Dimas Darsono.(ant/iss)
Editor: Denza Perdana



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.