SENGGANG

Kenali Endometriosis, Tidak Selalu Nyeri Saat Haid Itu Normal!

Laporan Anggi Widya Permani | Jumat, 14 September 2018 | 21:30 WIB
dr Relly Yanuari Primariawan, dokter spesialis kandungan RSUD Dr Soetomo Surabaya. Foto: Anggi suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Pernahkah Anda merasakan nyeri saat menstruasi atau haid? Sering kali orang beranggapan bahwa rasa nyeri itu lumrah terjadi pada wanita yang sedang masa ovulasi. Namun, perlu Anda ketahui, bahwa rasa nyeri saat haid bisa menjadi salah satu gejala endometriosis.

dr Relly Yanuari Primariawan, dokter spesialis kandungan RSUD Dr Soetomo Surabaya mengatakan, endometriosis adalah suatu keadaan di mana sel endometrium yang seharusnya hanya berada di dalam rongga rahim, tumbuh di luar rahim. Akibatnya, seseorang itu akan merasakan nyeri haid, nyeri panggul atau nyeri saat bersenggama.

Penyakit ini kerap terjadi pada wanita usia reproduksi kurang dari 35 tahun. dr Relly juga menyebutkan bahwa, penyakit tersebut tergolong kronis dan progessif. Artinya, meski termasuk jinak, apabila tidak ditangani dengan baik akan menjadi parah. Penyakit itu juga bisa muncul kembali, meski pasien telah menjalani pengobatan.

"Terkadang keluhannya mulai merasakan kram yang sangat menyakitkan hingga rasa nyeri yang semakin parah dari waktu ke waktu. Jadi memang harus diobati dan dikontrol. Karena kalau terlambat, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Endometriosis ini mudah kambuh. Kalau obat sudah tidak bisa, dilakukan tindakan operasi. Nah, operasi yang berulang-ulang tentunya bukan tanpa resiko. Bisa saja komplikasi, hingga kehabisan sel telur dan mengakibatkan mandul," jelas dr Relly, Jumat (14/9/2018).

Selain menyebabkan nyeri saat haid, penyakit ini juga bisa menjadi salah satu penyebab gangguan kesuburan. Lebih lanjut, endometriosis mengakibatkan reaksi radang di sekitar lokasi tumbuhnya. Sehingga, menyebabkan perlekatan yang seringkali menyebabkan buntunya saluran tuba (penghubung rahim dengan indung telur) dan akhirnya menyebabkan susah untuk hamil.

Apabila endometriosis ini menempel pada ovarium, seringkali terjadi kista. Karena akibat setiap siklus menstruasi, pendarahan yang terjadi tidak bisa keluar dan membentuk kantong. Semakin lama kantong tersebut akan membesar dan berisi darah beku yang berasal dari endometriosis pada ovarium yang menstruasi. Seringkali, dikenal dengan kista cokelat karena bentukan kista dan berisi cairan kecokelatan atau darah beku.

"Penyakit ini juga bisa jadi penyebab susah hamil. Jadi, bagi pasangan yang sudah 1 tahun berhubungan tapi tidak punya anak, bisa langsung konsultasi dan diperiksakan. Bila kista dan endometriosis tidak ditangani, maka akan menghambat seseorang untuk memiliki keturunan. Kalau sudah sulit, salah satu caranya dengan bayi tabung dan itu tidak sedikit biayanya. Tapi memang yang lebih spesifik gejala umum endometriosis ini adalah nyeri saat haid," tambahnya.

dr Relly menambahkan, penyebab pasti dari endometriosis ini masih belum 100 persen diketahui. Namun, pengaruh kelainan genetik juga memberikan peranan pada terjadinya endometriosis ini. Sekitar 70 persen pasien endometriosis merasakan nyeri haid, nyeri saat berhubungan seks, dan susah hamil. Sedangkan 25 persen lainnya, tanpa keluhan apapun.

"Tidak semua pasien penyakit ini merasakan nyeri, ataupun susah hamil. Ada juga yang tidak ada keluhan. Apakah tetap harus diobati? Iya. Seperti yang saya bilang, bahwa penyakit ini kronis dan progessif. Kalau tidak diobati, suatu saat akan menjadi parah. Ada beberapa cara, disembuhkan dengan obat-obatan, dan menjalani laparoskopi. Kalau yang ingin punya keturunan, bisa dengan Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB) atau bayi tabung," kata dia.

dr Relly mengakui, tingkat kesadaran perempuan di seluruh dunia tentang penyakit ini masih rendah. Dia mencontohkan, dari total populasi perempuan di Surabaya, 10 persennya mengalami endometriosis. Rata-rata, mereka datang untuk berobat dengan kondisi yang cukup parah.

Penyakit ini sering memberikan efek fisiologis maupun psikologis. dr Relly mengungkapkan, beberapa pasien yang menderita endometriosis berpotensi menderita stres. Mereka merasa putus asa, hingga akhirnya memilih operasi pengangkatan rahim.

"Maka dari itu, kami ingin masyarakat aware dengan penyakit ini. Jangan sampai terlambat. Karena dari sekian pasien, mereka datang dengan kondisi yang kebanyakan sudah parah nyerinya. Kemudian ada juga yang mulai putus asa. Memang penyakit ini akan berhenti saat orang itu hamil dan menopause. Tapi kalau orang yang tidak tahan, bisa sampai angkat rahimnya," tuturnya.

dr Relly mengatakan, kewaspadaan terhadap keluhan atau gejala tersebut dapat membantu mendiagnosis endometriosis lebih dini. Dengan diagnosis dini dan penanganan yang tepat, diharapkan dapat membantu mengatasi keluhan nyeri dan meningkatkan peluang untuk memiliki keturunan.

Tidak hanya itu, pola hidup juga menjadi bagian penting sebagai pencegahan dini. Seperti berolahraga, kurangi stres, makan makanan sehat, tidak merokok dan mengurangi junkfood.

"Apa yang kita sarankan, belum tentu menjamin. Tapi paling tidak mengurangi. Kenalilah diri Anda sendiri. Kalau nyeri, segera ke dokter. Semakin dini pengobatannya akan semakin baik untuk masa depannya," pungkasnya. (ang/iss/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.