SENGGANG

Nyai Film 'Aneh' Garin Nugroho Setelah Setan Jawa

Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 12 Oktober 2018 | 14:14 WIB
Satu diantara scene Nyai garapan Garin Nugroho. Foto: Workshop Garin
suarasurabaya.net - Bertutur tentang sosok perempuan pribumi yang menjadi Nyai di zaman kolonial Belanda, film Nyai ditulis dan disutradarai Garin Nugroho, Jumat (12/10/2018) diputar secara khusus di Kota Surabaya. Sebuah film 'aneh' setelah Setan Jawa.

Berlatar belakang tahun 1926 -1927, Nyai memang berkisah tentang kehidupan Nyai Diera itu yang kerap diidentikkan oleh masyarakatnya sebagai sosok pelacur, kafir, dan murahan.

Meskipun ada cerita duka dibalik sosok Asih (Annisa Hertami Kusumastuti), di mana masa remajanya terpaksa dihabiskan menjadi budak nafsu seorang Belanda yang membelinya dari sang Bapak demi uang dan jabatan, Asih tetaplah Nyai.

Hingga kemudian Pemerintah Hindia Belanda akhirnya menyita seluruh kekayaan yang dimiliki Willem sang suami, Asih di bagian akhir dukanya mengangkat senjata dan seperti menarikan Bedoyo Ketawang dengan memegang pistol lalu menembakkannya.

Seperti biasa, Garin yang film-filmnya sering berakhir dengan hal-hal yang tidak membahagiakan, pun demikian pada Nyai. Setelah Asih berjalan meninggalkan kamar sang suami lalu perlahan keluar menuju kursi dan menjatuhkan pistol yang dipegangnya, dan layar pun gelap.

Sejumlah novel, diakui Garin menjadi inspirasi pada Nyai. Misalnya, Nyai Isah (1904) karya F. Wiggers; Seitang Koening (1906) karya R.M. Tirto Adhisoerjo; Boenga Roos dari Tjikembang (1927) karya Kwee Tek Hoay; Nyai Dasima (1960) karya S.M Ardan, dan Bumi Manusia (1980) karya Pramoedya Ananta Toer.

"Nyai saya buat di tahun yang sama dengan Setan Jawa di tahun 2016. Ini adalah eksperimen baru, tapi produksi Nyai sangat independen, jadi metode distribusinya juga bergerak secara independen. Film ini unik sekaligus sebagai perspektif baru," terang Garin Nugroho usai pemutaran Nyai.

Nyai muncul perdana di Busan International Film Festival tahun 2016. Berlanjut di Torino International Film Festival 2016, lalu di Singapore International Film Festival 2016, kemudian ikut di Rotterdam International Film Festival 2017, dan terakhir diputar di Goteborg International Film Festival 2017.

Nyai dengan durasi putar sekitar 89 menit ini, oleh kalangan pemerhati film Tanah Air disebut-sebut sebagai film 'aneh' lainnya yang dibesut Garin Nugroho yang sudah hampir 37 tahun bergelut didunia perfilman.

Nyai dibuat dengan proses one take, one shot dan real time. Terbayang betapa detil dan rumit pengerjaannya. Dan bagi penonton awam mungkin itu nampak pada background yang menggunakan metode panggung. Sehingga penonton film Nyai tak ubahnya sekaligus menikmati pementasan teater. Sangat menarik, tapi tidak biasa.

Nyai diputar Jumat (12/10/2018) di CGV BG Junction Surabaya, dengan undangan khusus, setelah sebelumnya sukses diputar di Jakarta. Di Surabaya dijadwalkan bakal dilanjutkan dengan master class menghadirkan Garin Nugroho sutradara, Ong Hari Wahyu penata artistik dan Andhy Pulung editor sekaligus produser Nyai.(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.