SENGGANG

Esthi Susanti: Perempuan Harus Jadi Dirinya Sendiri

Laporan J. Totok Sumarno | Jumat, 26 April 2019 | 19:16 WIB
Diskusi membaca dan membedah pikiran Kartini dan Chairil Anwar dalam rangka Hari Kartini. Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Saat ini, perempuan memiliki kesempatan yang tidak jauh berbeda dengan warga masyarakat lainnya, khususnya laki-laki dalam rangka mengaktualisasikan dirinya di berbagai lapangan pekerjaan dan profesi.

"Butuh kemandirian bagi perempuan untuk selanjutnya menjadi berani mengambil sikap pada berbagai persoalan-persoalan hidup yang ada. Dengan kemandirian dan menjadi dirinya sendiri, perempuan tentunya akan memiliki keberanian untuk bersikap. Ini penting," terang Esthi.

Dan dengan menjadi dirinya sendiri, lanjut Esthi, perempuan memiliki kemampuan untuk melakukan adaptasi pada kondisi-kondisi tertentu yang dibutuhkan ketika menghadapi persoalan-persoalan hidup.

"Seniman perempuan di negeri ini tidak banyak muncul dan terdengar. Perempuan dengan karya-karyanya, sejatinya memiliki kekuatan yang tidak kalah dengan seniman lainnya, tetapi kerapkali karya mereka menjadi karya yang biasa-biasa saja, karena masyarakat memiliki penilaian tersendiri," ujar Esthi.


Karena itu Esthi mengingatkan bawah memiliki otonomi sendiri, menjadi bagian penting bagi perempuan. "Proses menjadi diri sendiri, bukanlah persoalan mudah. Butuh waktu, perjuangan termasuk pengorbanan, agar perempuan kemudian memiliki otonominya sendiri. Itu penting, dan perempuan harus memahami," tegas Esthi.

Esthi Susanti menjadi nara sumber pada diskusi membaca pikiran Kartini dan Chairil Anwar bertajuk: Bagimu Negeri Kunyalakan Api dalam rangka peringatan Hari Kartini, Jumat (26/4/2019) di ruang Merah Putih kompleks Balai Pemuda Surabaya.(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.