SENGGANG

Biasa Berpuasa 15 Jam Lebih, Faisal Merasa Beruntung Berada di Surabaya

Laporan Agung Hari Baskoro | Selasa, 21 Mei 2019 | 13:31 WIB
Shah Faisal Mahasiswa S2 Ilmu Farmasi Unair asal Pakistan. Foto: Baskoro suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Ramadhan 2019 adalah bulan puasa pertama di Indonesia bagi Shah Faisal Mahasiswa asal Pakistan. Sejak kedatangannya di Surabaya pada September 2018, baru tahun ini ia bisa merasakan Ramadhan di negeri orang.

Faisal sedang menempuh perkuliahan di S2 Ilmu Farmasi Unair. Banyak hal menarik yang ia dapatkan selama berpuasa di Surabaya. Ia merasa sedikit beruntung, pasalnya puasa disini lebih cepat. Bayangkan saja, biasanya dia harus berpuasa lebih dari 15 jam setiap hari. Disini, ia hanya perlu berpuasa 13 jam saja.

"Di sana lebih dari 15 jam (berpuasa, red). Jadi agak susah Ramadhan di sana itu. Di Pakistan bagian kota itu panas cuacanya. Jadi susah untuk berpuasa," ujar Shah Faisal mengenang suasana Ramadhan di negerinya.

Ia juga bercerita soal budaya Ramadhan di Pakistan. Setiap menjelang berbuka puasa, semua orang harus kembali ke rumah untuk berbuka bersama keluarga besar. Ada banyak makanan tersaji. Seperti Roti Maryam, Kari Ayam, Kari Daging, Nasi Biryani, Nasi Kebuli, Sambosa, dan sebagainya.


"Jadi kalau pas Ramadhan, saya tidak boleh makan di luar, saya harus pulang dan makan bersama keluarga. Tapi kalau pas di luar bulan Ramadhan, its ok makan di luar," ungkapnya.

Selama berpuasa disini, ia tak melihat budaya semacam itu. Ia lebih banyak melihat orang membeli makanan untuk dirinya dan memakannya sendiri. Hal ini wajar, karena Faisal berada di lingkungan mahasiswa yang juga jauh dari keluarganya.

"Tapi mungkin itu cuma penglihatan saya yah, berdasarkan pengalaman saya," katanya.

Meski jauh dari keluarga, Faisal tidak benar-benar sendiri. Saat ini ia tinggal bersama 5 orang mahasiswa yang juga berkebangsaan Pakistan.

Disini, mereka biasa memasak bersama makanan sahur dan berbuka. Roti Maryam dan Kari menjadi menu andalan untuk sahur. Untuk menu berbuka, mereka kadang memasak nasi biryani dan juga nasi kebuli.

Faisal mengaku, meski pada ramadhan ini mereka sering makan masakan sendiri, tapi ia mengaku juga suka masakan Indonesia. Ia yang suka pedas, mengaku cinta dengan Ayam Geprek. Tak tanggung-tanggung, ia pernah mencicipi Ayam Geprek hingga level cabe 20. (bas/tin/dwi)
Editor: Dwi Yuli Handayani



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
X
BACA LAINNYA