SENGGANG

Soal Lingkungan Jadi Tema Cerita Flying Balloons Puppet

Laporan J. Totok Sumarno | Selasa, 13 Agustus 2019 | 17:40 WIB
Memainkan lakon Pongo Abelli, kelompok teater boneka Flying Balloons Puppet peduli lingkungan. Foto: Totok suarasurabaya.net
suarasurabaya.net - Bagi kelompok teater boneka asal Yogyakarta, Flying Balloon Puppets persoalan lingkungan sangat menarik dibanding dengan persoalan manusia di dunia, lantaran sejak lama manusia memang kerap membuat persoalannya sendiri.

"Coba telusuri saja. Semua persoalan di dunia, penyebabnya adalah ulah manusia. Manusia sendiri yang membuat masalah sehingga dampaknya kemana-mana tidak saja menimpa manusia sendiri tetapi justru menimpa banyak makhluk hidup lainnya di dunia ini. Tetapi seringkali manusia tidak mau mengakui apa yang telah diperbuat sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi dunia, bagi alam lingkungannya," terang Rangga Dwi Appriadinnur pendiri Flying Balloons Puppet.

Manusia dengan segala perbuatannya saat ini, lanjut Rangga diakui atau tidak justru menadi penyebab rusaknya lingkungan di sekitarnya. "Penebangan pohon di hutan, pencemaran di laut, smuanya adalah ulah manusia. Tetapi dampaknya menimpa seluruh habitat, lingkungan serta kehidupan manusia sendiri," tambah Rangga.

Dan oleh karena itu, bersama para koleganya di kelompok teater Flying Balloons Puppet, Rangga memilih bercerita tentang lingkungan. Kerusakan lingkungan, rusaknya hutan, dan tersisanya satwa dilingkungan-lingkungan yang rusak itu memberikan inspirasi bagi Rangga menuliskan menjadi cerita.


Dimulai di tahun 2015, Rangga bersama beberapa rekannya Meyda Bestari, Khoirul Anwar dan Yunita Nursafitri, kemudian secara spesifik memilih mendirikan kelompok teater boneka yang diberi nama Flying Balloons Puppet.

Lakon Pongo Abelli berkisah tentang Orangutan di Indonesia yang pada akhirnya menghilang dan punah oleh sebab ulah manusia. Hutan dibakar untuk pembukaan lahan Sawit, PLTA dibangun dengan memanfaatkan air telaga di mana Orangutan biasa mencari kehidupan.

"Orangutan akhirnya tinggal cerita. Kondisi ini memang terjadi disekitar kita, dilingkungan kita, di dekat kita. Orangutan kehilangan habitatnya. Pongo Abelli berkisah tentang itu. Menyedihkan memang, tetapi itulah fakta," kata Rangga, Selasa (13/8/2019).

Di beberapa negara di luar Indonesia, nama kelompok teater boneka yang para punggawanya dalah anak-anak ISI Yogyakarta ini sudah cukup dikenal. Beberapa festival berskala internasional pun telah mereka singgahi.

Lalu, apa sejatinya makna nama Flying Balloons Puppet itu? "Bagi kami hidup biarlah seperti balon udara. Dimana kami berhenti, kami berhenti, selama kami mampu terbang, maka kami juga akan terus terbang kemana angin membawa kami," ujar Rangga di studionya kawasan Sribitan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul Regency, Yogyakarta.

Di Artjog MMXIX kelompok teater boneka ini juga tampil membawakan lakon Poliner yang menceritakan sejumlah satwa laut terjebak sampah di daerah Wakatobi. "Sampah di laut itu ulah siapa? Manusia juga kan?" ujar Rangga.(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.