SENGGANG

Informasi Tak Seimbang Buat Ibu Lebih Pilih Susu Formula daripada ASI

Laporan Agung Hari Baskoro | Minggu, 18 Agustus 2019 | 09:48 WIB
Ilustrasi.
suarasurabaya.net - Informasi yang tidak seimbang antara promosi susu formula dengan Air Susu Ibu (ASI) membuat sebagian ibu di Indonesia lebih memilih memberikan susu formula pada bayinya.

Dr. Wiyarni, SpA Dokter Spesialis Anak mengatakan, pengetahuan mengenai pentingnya pemberian ASI pada bayi masih perlu digencarkan.

"(Adanya, red) Informasi yang tidak seimbang dari promosi pengganti ASI. Pengganti ASI itu kalau kita kenal ya, susu formula. Informasinya tidak berimbang. Jarang sekali kita melihat iklannya ASI (Promosi pemberian ASI pada bayi, red). Tapi kita banyak melihat iklannya (susu, red) formula," ujar dokter yang juga Ketua Gerakan Indonesia Menyusui itu.

Seperti diketahui, saat ini angka menyusui di Indonesia masih berada di angka 45-50 persen. Angka ini masih relatif rendah dibandingkan target yang ditetapkan sebesar 90 persen.


Menurutnya, animo ibu untuk menyusui meningkat dalam satu hingga dua dekade ini. Namun, ketika para ibu mendapatkan kendala dalam proses menyusui, kebanyakan dari mereka tidak mendapatkan solusi sehingga kembali memilih susu formula.

"Kalau (ada, red) apapun terjadi, tapi ada dukungan, maka akan lebih mudah. Dukungan dari suami. Suami, pertama, bisa mendengarkan istri mengeluh. Kedua bisa sabar, Ketiga, bisa carikan ilmunya. Yang bener gimana (cara menyusui, red). Terus kasih tau. Kalau ada dukungan itu, harusnya mudah untuk istri," jelasnya.

Soal regulasi iklan, Dr Wiyarni juga berharap, ada kebijakan dan implementasi yang lebih tegas untuk membatasi iklan susu formula. Sebenarnya, aturan tentang hal ini telah ada di PP nomor 33 tahun 2012 dan Permenkes nomor 39 tahun 2013.

Dalam PP 33/2012, produsen susu formula hanya dilarang mengiklankan produk makanan untuk bayi berumur 0-1 tahun saja. Ia berharap, dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) baru, batasan itu dinaikkan hingga usia 2-3 tahun.

"Karena kan masa emas perkembangan otak itu tiga tahun. Kalau WHO, 36 bulan. Jangan sampai ada promosi (susu formula, red) yang impropriate sampai 36 bulan," pungkasnya. (bas/iss)


Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.