SENGGANG

Kiat Mengelola Dana Kesehatan

Laporan Anggi Widya Permani | Minggu, 17 November 2019 | 20:47 WIB
Mimien Susanto Perencana Keuangan. Foto: She Radio
suarasurabaya.net - Ibarat peribahasa "sedia payung sebelum hujan", dana kesehatan perlu dipersiapkan jauh-jauh hari. Sebab, kita tidak pernah tahu kapan sakit itu datang. Termasuk musibah seperti kecelakaan, dan bencana alam. Kita pun butuh dana darurat.

Bagaimana caranya? Mimien Susanto Perencana Keuangan membagikan kiat-kiatnya untuk bagaimana mengelola dana kesehatan atau dana darurat itu. Pertama, income atau gaji yang dimiliki tentunya harus diatur dan dikelola sebaik-baiknya.

Perencanaan keuangan ini harus dibagi dalam empat pos penting:

1. Pos Zakat, Infaq, Shodaqoh (ZIS) dan Sosial


Mulai saat ini cobalah untuk menyisihkan gaji sebesar 10 persen untuk amal dan kegiatan sosial lainnya. Pos ini dapat digunakan untuk membantu orang di sekeliling Anda. Misal, ada teman yang sakit atau Anda harus membeli kado pernikahan untuk teman. Memang, pos ini terkadang tidak selalu dibutuhkan tiap bulannya. Tapi, pengeluaran untuk pos ini bisa datang tidak terduga. Kalau tidak dipersiapkan, bisa menganggu keuangan Anda.

2. Pos Tabungan dan Investasi

Pos ini harus dipersiapkan dan penting untuk masa depan. Bukan hanya untuk yang berkeluarga saja, yang masih single juga perlu. Sisihkan minimal 20 persen dari gaji Anda untuk menabung dan disimpan di rekening lain. Artinya, tidak menjadi satu dengan rekening pribadi yang biasa digunakan untuk sehari-hari.

"Nah, dana darurat dan kesehatan ini bisa diambil dari pos ini, di mana setiap bulannya wajib menyisihkan 20 persen dari gaji kita. Ini bisa mengatasi kalau sewaktu-waktu kita mengalami sakit atau dalam keadaan darurat misal kecelakaan, atau bencana alam," kata Mimien dalam acara Healty Family Healty Financial yang diadakan She Radio di Arya Sentra Hotel Surabaya, Minggu (17/11/2019).

3. Pos Cicilan Utang

Utang termasuk pengeluaran skala prioritas tinggi. Daripada menumpuk utang, ada baiknya mengalokasikan sebagian gaji Anda untuk membayarnya. Meski tidak langsung lunas, paling tidak mencicilnya sedikit demi sedikit. Anda bisa menyisihkan 30 persen dari gaji Anda setiap bulannya.

4. Pos Biaya Hidup

Setelah ketiga pos di atas, barulah Anda mengalokasikan gaji bulanan untuk baiya hidup. Masukkan 40 persen gaji bulanan untuk makanan, listrik, transportasi dan kebutuhan hidup lainnya.

Cara mengatur dan mengumpulkan dana sendiri ini, kata dia, rupanya punya kelemahan. Salah satunya, sikap kurang disiplin atau sulit mengontrol keuangan karena hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

"Misalnya lihat diskonan di mall, nah itu kadang juga menjadi godaan kita. Kita terpaksa ngambil dana darurat atau kesehatan itu, karena memang tidak ada yang ngontrol. Tidak ada yang nggak bolehin, karena itu kan uang kita sendiri," kata dia.

"Kelemahan lainnya, risiko sakit datangnya yang terlalu cepat. Misal, kita baru mengumpulkan dana kurang banyak dan masih berjalan beberapa bulan. Tapi ternyata, kita tiba-tiba mengalami sakit dan masuk rumah sakit. Tentu itu akan menguras banyak uang. Bisa jadi habis atau mungkin berkurang," jelasnya.

Cara lain selain menabung sendiri, lanjut dia, Anda bisa memilih Asuransi Kesehatan. Dengan begitu, akan mengurangi risiko. Sebab, perusahaan asuransi lebih berpengalaman dalam mengelola dana kesehatan.

"Jadi ketika kita sakit, kebutuhan biayanya besar tetap akan dibayarkan oleh perusahaan asuransi. Terserah mau pilih yang mana. Yang pertama atau yang kedua itu semua pilihan di tangan kita," kata dia.

Mimien menilai, kesadaran masyarakat Indonesia untuk menyisihkan dana kesehatan saat ini sudah cukup besar. Karena biaya kesehatan tiap tahunnya tinggi. Kalau tidak dipersiapkan mulai sekarang, itu bisa mengganggu keuangan keluarga Anda.

"Kalau dibandingkan dengan negara Asia yang lain, kenaikan biaya kesehatan Indonesia paling tinggi di atas 12 persen. Menurut saya untuk beberapa tahun terakhir ini, sudah mulai banyak yang sadar untuk menyisihkan dana kesehatan ya. Banyak yang pakai asuransi kesehatan, misalnya kayak BPJS. Ikut asuransi itu tentu harus disesuaikan kemampuannya juga, jangan dipaksakan," kata dia. (ang/tin/ss)
Editor: Ika Suryani Syarief



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.