SENGGANG

Sri Minggat Tentang Perempuan yang Menyerahkan Hidupnya Demi Surga

Laporan J. Totok Sumarno | Sabtu, 30 November 2019 | 14:18 WIB
Ilustrasi
suarasurabaya.net - Lakon Sri Minggat yang dipentaskan Teater Api Indonesia (TAI), Sabtu (30/11/2019) bercerita tentang perempuan yang memimpikan surga lalu menyerahkan hidupnya pada. hal-hal yang justru penuh kekerasan. Atas nama Tuhan dan surga yang diimpikan.

Sosok Sri adalah satu dari jutaan perempuan yang bertekad menyerahkan hidupnya pada mimpi-mimpi tentang surga.

Perempuan yang terus menerus mencari pintu-pintu surga dengan meledakkan tubuh anak-anaknya untuk membinasakan perempuan dan anak-anak serta keluarga-keluarga yang lain.

Sri adalah perempuan yang selalu bersembunyi dan menutup pikiran serta mata hati dengan kerudungnya yang hitam. Perempuan yang telah hijrah lalu mengendap-endap di kegelapan, lalu memaki-maki sambil mengayun-ayunkan sebilah pedang serta rakitan bom yang siap diledakkan.


Kemudian Sri hanyalah mitos-mitos tentang perempuan yang dulu di agung-agungkan dalam tembang-tembang tentang kebesaran hati serta naluri kemanusiaannya yang tinggi karena pernah menjadi ibu yang melahirkan anak-anaknya.

Sri hanyalah serpihan tubuh-tubuh perempuan, anak-anak serta gereja-gereja yang telah runtuh dan terbakar. Demi surga dan atas nama Tuhan yang diyakininya.

Menurut Luhur Kayungga sutradara Sri Minggat, pertunjukkan ini adalah sebuah proses metamorfosis judul naskah asli: One Flew Over The Chuckoo's Nest, karya Ken Kesey, yang kemudian digubah menjadi naskah drama oleh Dale Waserman.

Teater Api Indonesia (TAI) untuk pertamakalinya mementaskan lakon ini tahun 1999 dengan melakukan pementasan keliling di 8 kota di Indonesia. Lakon itu lalu bermetamorfosis pada gagasan, konsep serta pemikiran dalam pertunjukkan dengan judul: Brongkos tahun 2011 dengan tour di 8 kota.

"Berubah lagi menjadi: Max pada tahun 2015 diikuti pentas keliling di 2 kota. Dan di tahun 2019, kembali lakon ini bermetamorfosis menjadi Sri Minggat. Lakon asli ini merupakan satu tanda atau analogi bahwa realitas saat ini adalah sebuah rumah sakit jiwa," terang Luhur Kayungga, Sabtu (30/11/2019).

Sebuah sistem yang dikendalikan oleh Suster Besar dengan kegilaanya. Orang-orang ditempatkan dalam satu lorong, 18 tingkat dibawah tanah. Orang-orang itu tidak lagi bisa mengenali waktu. Mereka balikkan isi bumi ke satu sisi, mereka ikat rumitnya, digantung dan dibelah isi perut serta otaknya.

"Sri Minggat lebih berupaya untuk memasuki idiomatik radikalisme: mind side, tubuh-tubuh, ruang dan benda-benda. Gagasan melawan akal sehat, mencibir keterbatasan, dan menyatakan perang bagi nurani kemanusiaan. Ideologi yang menganggungkan logika teror pada pertunjukkannya," pungkas Luhur.

Pementasan Sri Minggat digelar Sabtu (30/11/2019) di gedung pertunjukan Cak Durasim kompleks Taman Budaya Jawa Timur Jl. Gentengkali, Surabaya.(tok/ipg)
Editor: Iping Supingah



Komentar Anda
Komentar 0
loading...

 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.